“Siapa bilang kamu ngga bisa, Nak ?!?”
Semua orang tua pasti menginginkan anaknya suatu saat menjadi insiyur, dokter atau ilmuwan. Setiap orang tua pasti memimpikan anaknya menjadi anak yang cerdas, tumbuh dengan sehat dan sempurna. Pada dasarnya menjadikan anak kreatif bisa saja terjadi. Zona Perkembangan Proximal (zone of Proximal Development, ZPD) adalah istilah Vygotsky untuk tugas-tugas yang terlalu sulit untuk dikuasai sendiri oleh anak-anak, tetapi yang dapat dikuasai dengan bimbingan dan bantuan dari orang-orang dewasa atau anak-anak yang lebih terampil. Penekanan Vygotsky pada ZPD menegaskan keyakinannya pada pentingnya pengaruh-pengaruh social terhadap perkembangan kognitif dan peran pengajaran dalam perkembangan anak (Steward, 1994 dalam Santrock, 1995). Tetapi sering kali, justru kebanyakan orang tua melakukan beberapa hal yang keliru memperlakukan anaknya. Memang, salah satu hal yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu proses tumbuh kembang anaknya adalah memeberikan stimulus dengan cara memberinya permainan kreatif. Inginnya anaknya bisa menjadi cerdas (memiliki kemampuan yang belum dicapai oleh anak lain seusianya) tetapi akhirnya malah menjadikan anaknya mengalami keterlambatan dalam berkembang. Seperti kasus berikut yang diutip dari (http://info.balitacerdas.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=27) :
Beberapa waktu yang lalu saya melihat sebuah acara di TV Jepang yang sangat memprihatinkan, dimana dari hasil penelitian menunjukkan bahwa masalah terbesar yang dihadapi oleh anak adalah keterlambatan dalam kemampuan bahasa/komunikasi pada saat anak tersebut menginjak usia 3-4 tahun. Karena menginginkan anaknya tumbuh dengan cerdas, banyak sekali orangtua yang memberikan permainan kreatif kepada anaknya. Tetapi sayangnya para orangtua tersebut kurang memahami bahwa kecerdasan yang diharapkan dari anak tidak akan dapat tercapai hanya dengan melakukan permainan kreatif melulu.
Apa itu permainan ?
Sebenarnya permainan adalah suatu kegiatan yang menyenangkan yang dilaksanakan untuk kepentingan kegiatan itu send
Maka dari itu, orang tua harus selalu waspada dan memperhatikan anak-anaknya. Tetapi juga bukan berarti orang tua mengekang kebebasan anak-anaknya. Orang tua bisa saja memberikan mainan yang mahal kepada anaknya, tetapi mainan yang mahal tidak berarti lebih baik dan lebih dihargai dari mainan yang murah.
Ayah (dan beberapa ibu) membelikan mainan agresi untuk anaknya- senjata dan pistol mainan. Tak pasti apakah ini membahayakan (Belakangan ini pistol mainan merupakan mainan yang hampir dilarang penjualannya akibat banyaknya kasus kecelakaan yang menyebabkan cacat fisik pada anak di
Kemampuan berbicara dan berkomunikasi anak merupakan faktor terpenting dalam mendorong kemampuan anak untuk berpikir cerdas. Alasan lain yang mendorong orangtua untuk selalu memberikan mainan kreatif adalah karena dengan permainan tersebut anak menjadi asyik dengan dunianya sehingga orangtua merasa menjadi lebih 'ringan' dalam mengasuhnya. Jangan salah tangkap. Permainan kreatif memang sangat diperlukan oleh anak, tetapi berbicara dengan anak juga merupakan hal yang sangat penting. Keduanya, dan tentunya termasuk juga stimulasi untuk perkembangan fisik, harus diberikan dengan seimbang. Selain itu, banyak orangtua yg memberikan mainan kepada anaknya tanpa tahu fungsi dari mainan tsb. Dan ini adalah masalah yg paling sering ditemukan. Orgtua membelikan mainan yg cukup mahal harganya, tanpa mengetahui tujuan dan fungsi otak bagian mana yg distimulasi oleh permainan tsb. (http://info.balitacerdas.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=27)
Anak dilahirkan dengan 10 miliar neuron (sel syaraf) di otaknya. Tiga tahun pertama sejak lahir merupakan periode di mana miliaran sel glial terus bertambah untuk memupuk neuron. Sel-sel syaraf ini dapat membentuk ribuan sambungan antarneuron yang disebut dendrite yang mirip sarang laba-laba, dan axon yang berbentuk memanjang. Perkembangan otak anak yang sedang tumbuh melalui tiga tahapan, mulai dari otak primitif ( action brain ), otak limbik ( feeling brain ), dan akhirnya ke neocortex (atau disebut juga thought brain , otak pikir). Mielinasi saraf otak berlangsung secara berurutan, mulai dari otak primitif, otak limbik, dan otak pikir. Jalur syaraf yang makin sering digunakan membuat mielin makin menebal. Makin tebal mielin, makin cepat impuls syaraf atau perjalanan sinyal sepanjang “urat” syaraf. Karena itu, anak yang sedang tumbuh dianjurkan menerima masukan dari lingkungannya sesuai dengan perkembangannya. Aktivitas motorik kasar seperti lompat tali, memanjat, lari , serta aktivitas motorik halus macam menggambar, merenda, membuat origami, dan bikin kue merupakan akitivitas penting bagi proses mielinasi C. collosum . Jalur ini memungkinkan kemampuan berpikir analitis (otak kiri) dan intuitif (otak kanan) untuk saling mempengaruhi. Sejumlah ahli neuropsikologi percaya, buruknya perkembangan jembatan ini mempengaruhi komunikasi efektif antara belahan otak kanan dan kiri. Diduga, inilah penyebab timbulnya kesulitan perhatian dan belajar pada anak. (Kompas–intisari dalam http://www.bayisehat.com/2006/03/24/matikan-saja-tv-anda.html)
Anak juga membutuhkan pengalaman yang merangsang pancaindera. Namun, indera mereka perlu dilindungi dari rangsangan yang berlebihan karena anak-anak itu ibarat sepon.“Mereka menyerap apa saja yang dilihat, didengar, dicium, dirasakan, dan disentuh dari lingkungan mereka. Kemampuan otak mereka untuk memilah atau menyaring pengalaman rasa yang tidak menyenangkan dan berbahaya belum berkembang,” papar Susan. (Kompas–intisari dalam http://www.bayisehat.com/2006/03/24/matikan-saja-tv-anda.html)
Berikut adalah beberapa tips dalam memilih mainan untuk anak yang bisa menambah kemampuan intelegensinya:
ü Orangtua perlu tahu tahap-tahap perkembangan anak, baik usia, emosi dan fisiknya. Anak usia 3 tahun dapat secara mengejutkan membangun menara yang tinggi yang terbuat dari balok, setiap balok disusun dengan hati-hati sekali meski seringkali tidak pada suatu garis yang benar-benar lurus. Sementara anak-anak usia 4 tahun sulit membangun menara yang cukup tinggi karena mereka ingin menempatkan seetiap balok secara sempurna, hal ini dikarenankan koordinasi otot motorik halus anak sudah semakin sempurna. Pada usia 5 tahun, sebuah menara saja tidak akan menarik. Saat itu mereka ingin membangun rumah atau gereja lengkap dengan menara (Santrock, 1995).
ü Peduli terhadap mainan yang digunakan. Jangan asal beli yang mahal, sesuaikan dengan
ü Keamanan alat bermain perlu diperhatikan, baik dari bahan (materil dan catnya) dan kinerja alat tersebut (yang menghindari cedera ketika digunakan).
ü Pilih mainan yang berwarna kontras dan cerah, untuk merangsang indera penglihatan anak.
ü Pastikan semua mainan dalam jangkauan anak, agar terhindar dari cedera ketika anak berusaha mencapainya.
ü Anak di usia enam bulan keatas suka mainan yang mengeluarkan bunyi dan benda berwarna seperti genta, bel, lonceng mini, gambar penuh warna maupun benda berteksturlembut.
ü Beri mainan seperti lego dan sejenisnya yang mempunyai variasi bentuk pada anak usia 9 bulan keatas, atau mainan serupa yang dapat dimainkan sewaktu mandi.
ü Tak perlu mainan mahal untuk anak Anda. Si kecil butuh stimulus untuk merangsang kreatifitasnya, dan ini bisa anda lakukan dengan membuatnya sendiri. Tentu, kreatifitas Anda yang diperlukan.

No comments:
Post a Comment